SAWER PANGANTEN Kontiunitas dan Perubahan Tradisi Sunda

Oleh: Dr. Cepi Irawan, M.Hum.

Penelitian ini bertujuan untuk memahami peristiwa saweran yang terjadi dalam masyarakat Sunda kontemporer. Penelitian dilakukan dengan pengamatan terlibat pada upacara perkawinan yang berlangsung dalam masyarakat Sunda yang tinggal di kota. Peristiwa nyawer atau sawer dilaksanakan pada waktu upacara perkawinan adat Sunda setelah akad nikah. Upacara ini dilengkapi dengan benda-benda simbolik yang mempunyai nilai ritual seperti mantera atau rajah. Sawer yang bentuk aktivitasnya berupa penyampaian nasihat kepada mempelai melalui lagu-lagu yang dinyanyikan oleh juru sawer dengan seni mamaos sebagai sarananya. Sawer atau nyawer mempunyai arti air jatuh memercik, sesuai dengan praktek juru sawer yang menabur-naburkan perlengkapan nyawer seolah-olah memercikkan air kepada mempelai serta kepada semua yang hadir dan ikut menyaksikan di sekelilingnya. Acara seperti ini disebut nyawer karena dilakukan di panyaweran atau taweuran atau cucuran atap. Berdasarkan pengamatan, dapat disimpulkan bahwa pada saatini telah terjadi perubahan-perubahan, baik dari segi tempat pertunjukan, waktu pelaksanaan, materi lagu yang dibawakan, dan juru sawer yang melaksanakannya. Meskipun demikian, acara sawer ini sampai sekarang masih terus dilaksanakan oleh masyarakat Sunda kontemporer.

Baca selengkapnya : digilib.isi.ac.id