Menengok Cipta Karya Pertunjukan Keroncong Biru di Ruang Virtual

Oleh: Tri Prasetyo

Tentang Keroncong Biru

Etnomusikologi-Keroncong Biru merupakan grup keroncong yang berasal dari kapanewon Pakem, Sleman. Keroncong Biru beranggotakan anak-anak muda dengan latar belakang yang berbeda-beda. Keroncong tersebut dibentuk atas dasar besarnya kecintaan mereka terhadap musik keroncong. Mayoritas lagu yang dibawakan bergenre pop dengan arasemen musik keroncong. Ciri khas teknik bernyanyi vokalis cenderung kalem atau lembut.

Keroncong Biru berasal dari komunitas gereja yaitu orang muda katolik (OMK) yang telah melakukan pertunjukan di berbagai acara, sejak terbentuknya grup keroncong tersebut pada tahun 2016. Keroncong Biru biasanya melakukan pertunjukan secara luringseperti di acara wedding, syukuran, dan festival musik.

Namun sejak terjadinya pandemi Covid-19 pertunjukan yang semula dilakukan secara luring kini berubah ke bentuk pertunjukan secara virtual, khususnya melalui Platform YouTube. Keroncong Biru memiliki tujuan untuk melestarikan musik keroncong melalui cover lau-lagu pop dan membuat lagu original. Selain itu grup tersebut juga berhubungan langsung dengan masyarakat melalui keterlibatan untuk mengiringi ibadah di gereja dan melakukan pertunjukan di berbagai acara untuk menghibur audience baik secara virtual ataupun secara luring.

Berkarya di Ruang Virtual

Pandemi covid-19 telah merubah sedikit banyak kehidupan manusia.  Penyebaran virus yang cukup massive mengakibatkan adanya pembatasan kegiatan masyarakat. Pembatasan tersebut mengharuskan masyarakat untuk menghindari kerumunan. Larangan berkumpul membuat masyarakat beralih dari ruang real ke ruang virtual. Begitu pula di jagat musik, pertunjukan musik live yang biasanya dipadati penonton (audience) kini tidak lagi dapat dilakukan. Sejumlah event pertunjukan musik yang telah dirancang untuk diselenggarakan di tahun 2020 terpaksa dibatalkan atau diubah menjadi pertunjukan vitual. Festival-festival musik besar di Indonesia seperti Syncronize, Soundrenaline, dan Java Jazz juga terpaksa mengubah pertunjukan dari real ke virtual.

Meskipun kebanyakan pertunjukan musik dipertontonkan secara virtual, Solo Keroncong Festival tetap dilaksanakan secara hybrid (tatap muka dan virtual) Festival tersebut diselenggarakan pada tanggal 7 dan 8 November 2021 di Convention Hall Tirtonadi dan dihadiri 11 grup yang berasal dari nasional dan internasional. Acara tersebut dihadiri oleh maestro keroncong Waldjinah, serta beberapa penyanyi keroncong asal Solo antara lain Endah Laras dan Sruti Respati. Solo Keroncong Festival (SKF) 2021 hadir dengan tema Historia dan Millenial yang bertujuan melestarikan dan mengembangkan musik keroncong, sehingga generasi muda mampu dan mau mengapresiasi, mengadopsi musik keroncong sesuai dengan perkembangan zaman. Pertunjukan ini diharapkan menjadi semangat bagi seluruh masyarakat, industri kreatif dan kesenian keroncong.

Keroncong Biru beranggotakan 9 personil yang digawangi oleh Daniel. Nama keroncong Biru dipilih karena mempunyai makna tenang dan stabil, sama halnya seperti harapan Keroncong Biru agar grup keroncong tersebut dapat stabil dan tetap bertahan dari masa ke masa. Sebelum terjadinya pandemi Covid-19, Keroncong Biru melakukan pertunjukan secara luring atau tatap mukadari panggung ke panggung. Orkes Keroncong Biru sebelumnya pernah mengisi di berbagai panggung kesenian diantaranya seperti, Festival Kesenian Yogyakarta 2016 (FKY), Soundrenaline 2017, Keroncong Plesiran 2018 dan Tribut To Chrisye 2018.

Saat ini pertunjukan keroncong Biru dilakukan secara virtual melalui Platform YouTube. Pertunjukan virtual tentunya tidak dapat disepadankan dengan pertunjukan luring (tatap muka). Pertunjukan luring dapat kita nikmati pada saat pertunjukan berlangsung secara live serta pertunjukan tersebut tidak dapat diulang di hari yang sama dan penonton yang sama, sedangkan pertunjukan yang dilakukan secara virtual merupakan bentuk interaksi antara penonton dan penampil yang dilakukan melalui dunia maya, dengan bantuan internet. Pertunjukan virtual dilakukan untuk menghindari adanya kerumunan dalam masa pandemi dan kontak langsung antar manusia atau audience. Namun adanya pertunjukan yang dilakukan secara virtual, memberikan bentuk sajian baru dalam dunia seni pertunjukan.

Mengintip Dapur Produksi Keroncong Biru

Keroncong Biru memiliki susunan organisasi sederhana dalam pengelolaan pertunjukan virtual ataupun pertunjukan luring meliputi ketua, manager, dan seluruh personil Keroncong Biru. Pengelolaan dilakukan secara sistem gotong-royong untuk mengatur kordinasi antar pemain, jadwal latihan, jadwal pentas, promosi, dan pembiayaan. Proses produksi untuk menghasilkan video yang siap dinikmati oleh masyarakat dilakukan dengan tahap menentukan lagu, garap lagu, latihan, persiapan kostum, pembuatan video, mixing dan mastering, serta mengunggah ke Platform YouTube.

  • Produksi

Produksi merupakan bahan untuk menciptakan suatu pertunjukan atau karya seni, salah satunya adalah proses pembuatan video cover oleh grup Keroncong Biru. Mixing maupun mastering dilakukan oleh Daniel sedangkan take video dilakukan oleh Alvin, selain itu pemilihan kostum disepakati secara bersama antara anggota Keroncong Biru. Proses garap lagu grup musik Keroncong Biru dilakukan secara langsung saat melakukan proses latihan. Proses penggarapan meliputi musik serta lagu dipikirkan secara bersama personil satu dengan lainya memberikan ide dan masukan pada saat penggarapan instrumental musik. Arasemen dilakukan secara lisan ada beberapa penggunaan partitur tetapi dalam bentuk akord C, F, G, ataupun symbol romawi I, IV, V, penggunaan angka romawi ataupun akord dilakukan karena dirasa cukup mudah untuk personil Keroncong Biru, disbanding dengan partitur not balok yang cukup sulit untuk memahami karena personil Keroncong Biru sebagian tidak familiar dengan partitur not balok.

  • Kostum

Setiap pertunjukan ataupun pagelaran seni tentunya kostum menjadi sebuah daya tarik bagi penonton, kostum merupakan hal yang paling mendasar dalam melakukan suatu pertunjukan. Adanya penggunaan kostum pada saat pementasan berlangsung, bertujuan untuk memperindah dan menarik penonton saat melakukan pentas. Dalam pemilihan kostum, Keroncong Biru tidak memilki ketentuan yang saklek, beberapa pertunjukan virtual pemilihan kostum yang digunakan adalah kasual dan bebas rapi.

  • Distribusi

Distribusi adalah tempat untuk menampilkan suatu pertunjukan atau karya seni. Pemasaran didalam pertunjukan grup Keroncong Biru secara luring diatur secara mandiri oleh personil Keroncong Biru salah satunya Daniel dan dibantu dengan para personil lainya dalam menyiapkan pertunjukan secara luring. Untuk pertunjukan yang dilakukan secara virtual melalui sosial media biasanya Alvin sebagai manager Keroncong Biru, mendapatkan tugas sebagai pemegang aplikasi Tiktok dan Instagram, sementara Daniel bertugas mengelola akun YouTube Keroncong Biru. Jadi antara pemimpin atau ketua grup dengan Manager terjalin kerjasama yang saling berkaitan. Organisasi yang terdapat di grup Keroncong Biru dalam mengelola pertunjukan ataupun pemasaran hanya terdapat dua struktur organisasi yaitu, manager dan crew. Berikut beberapa tugas manager dan crew grup Keroncong Biru.

Adanya perkembangan era digital kini masyarakat dapat menikmati dan menjelajah ke berbagai jejaring di internet, serta dapat menonton berbagai hiburan maupun edukasi secara gratis diantaranya video musik, film, dan pembelajaran  melalui virtual. Adanya aplikasi dan teknologi yang lebih modern banyak pekerja seni dan para musisi beralih ke dalam dunia digital untuk memanfaatkan peluang yang cukup besar dalam industri musik, ditambah dengan masa pandemi yang saat ini masih belum pulih secara maksimal. Maka pertunjukan yang semula disajikan secara terbuka kini pertunjukan diselenggarakan dalam bentuk virtual. Pertunjukan musik secara virtual untuk memenuhi kebutuhan pasar dan menghibur masyarakat yang haus akan dunia hiburan khususnya dalam pertunjukan musik keroncong

Pustaka

Fakhrudin, M. 2021. “Festival Keroncong Tampilan Orkes dari Singapura dan Amerika”. https://repjogja.republika.co.id/berita/r1y0in327/festivalkeroncong-tampilkan-orkes-dari-singapura-amerika (diakses 23 Februari 2022).

Setiawan, Afrizal, Y, Hasbary, D dan Bulan, I. 2021. “Virtual Choir: Bentuk Penyajian Paduan Suara di Masa Pandemi Covid-19” Prosiding Implementasi Merdeka Belajar di Masa Pandemi Covid-19: Peluang dan Tantangan, Pendidikan Tari, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung, Indonesia.

Widjajadi, R. Agus Sri. 2017. Mendayung di antara Tradisi dan Modernitas. Yogyakarta: Hanggar Kreator.

Narasumber

Daniel Darmawan Putra, 30 tahun, ketua dan penggagas Keroncong Biru, Kaliurang Timur, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta.

Penulis : Tri Prasetyo

Instagram : prasetyopongkring

Email : prasetyopongkring@gmail.com

Cover : instagram keroncongbiru