HANGSUN GANDRUNG Reproduksi Budaya Musikal Banyuwangi di Surakarta
Oleh: Satrio Bogie Syamsudin
Membangun Relasi Dua Budaya
ETNOMUSIKOLOGI. Hangsun Gandrung membawa kesenian pesisiran Banyuwangi masuk ke wilayah Surakarta. Kelompok ini berupaya untuk beradaptasi dengan budaya musikal di Surakarta, mereproduksi budaya yang dibawanya dari Banyuwangi ke dalam ruang dan waktu yang berbeda. Di tinjau dari budaya musikalnya, dua wilayah tersebut mempunyai latar belakang yang berbeda, sehingga kelompok Hangsun Gandrung mencoba untuk membangun relasi dengan perbedaan tersebut.
Pertemuan dua budaya yang berbeda menghadirkan kontak antar budaya. Hal tersebut melatarbelakangi kelompok Hangsun Gandrung untuk menanggapi secara kreatif kontak pertemuan dua budaya tersebut. Shin Nakagawa mengutip pendapat dari Margaret Kartomi tentang suatu hal pertemuan kebudayaan, bahwa proses perubahan kebudayaan memiliki enam bentuk, salah satunya yaitu pluralisme musik yang hidup berdampingan. Pluralisme kebudayaan biasanya terjadi pada masyarakat urban yang anggota masyarakatnya bi- (dua) atau multietnis. Dua kemungkinan dapat terjadi dalam musik, pertama saling mencampur unsur-unsur musik yang ada menjadi sintesis baru dan kedua masing-masing hidup berdampingan. (Nakagawa, 2000). Pertemuan budaya kesenian Banyuwangi yang dihadirkan di Surakarta senada dengan pendapat Margaret Kartomi, maka dalam hal ini kelompok Hangsun Gandrung mencoba hidup dan berdampingan dengan mencampur unsur idiom musikal yang dibuatnya.
Tulisan ini dibuat berdasarkan penelitian sebelumnya dengan judul yang sama. Metode penelitian yang saya kenakan yaitu deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnomusikologis. Pendekatan etnomusikologi mengisyaratkan adanya kajian teks dan konteks. Teks merupakan fenomena musikal, artinya berbagai hal yang terkait dengan aspek musikal menjadi objek kajiannya, sementara konteks adalah teks lain yang mengitarinya, dalam hal ini pembahasan konteks yang masih berkaitan erat dengan musikal adalah proses reproduksi seni Banyuwangi di Surakarta menjadi pokok pembahasannya. Pisau pembedah untuk mengkaji hal tersebut saya memakai konsep reproduksi budaya dari Pierre Bourdieu.
Reproduksi Budaya
Konsep reproduksi budaya menurut Bourdieu, dijelaskan bahwa proses reproduksi budaya tidak terlepas dengan konsep habitus, modal, dan ranah,Bourdieu memiliki rumus (Habitus x Modal) + Arena = Praktik. (Krisdinanto, Maret 2014) Rumus tersebut menjadi landasan dasar konseptual untuk menganalisis bagaimana proses reproduksi budaya grup Hangsun Gandrung di Surakarta.
Konsep habitus, modal, dan arena kemudian menghasilkan praktik, yang dijalankan oleh aktor atau agen. Kajian ilmu sosiologi tidak terlepas dari kehadiran manusia, sehingga dalam proses reproduksi kebudayaan tokoh utama yang menjalankan adalah manusia yang disebut aktor atau agen reproduksi kebudayaan. Habitus dibentuk sekaligus membentuk suatu struktur (aktor atau agen), yang merupakan suatu kebiasaan seseorang yang dihasilkan dari hubungan sosial. Penjelasan singkat mengenai habitus dalam konteks tulisan ini dapat disimpulkan bahwa kesenian Banyuwangi yang dibawakan di Surakarta sebagai bentuk perwujudan konsep habitus. Pengalaman atau kebiasaan musikal para anggota kelompok Hangsun Gandrung ketika melangsungkan hidup di Jawa Timur, khususnya kesenian di Banyuwangi dihadirkan dalam ruang dan waktu di Surakarta.
Modal dan Arena
Konsep modal menurut Bourdie dibagi empat macam, yaitu: modal budaya, modal simbolik, modal sosial, dan modal ekonomi. (Nukha, April 2017). Pertama modal budaya atau kultural terbentuk dalam setiap seseorang dengan melihat latar belakang kehidupan budayanya. Modal budaya yang dimiliki oleh Hangsun Gandrung secara perorangan berupa latar belakang pendidikan kesenian karawitan dan juga pengalaman musikal pribadi setiap anggota. Kehadiran anggota-anggota yang berasal dari Banyuwangi semakin memperkuat daya musikal Hangsun Gandrung untuk memperkenalkan kesenian Banyuwangidi Surakarta. Merak Badra Waharuyung selaku pendiri, komposer, dan pengelola Hangsun Gandrung sejatinya bukan berasal dari Banyuwangi. Pengalaman musikal Badra diperoleh dari pendidikan seni karawitan di ISI Surakarta. Badra juga memiliki pengalaman nyantrik di salah satu sanggar seni di Banyuwangi, sehingga memperoleh bekal dasar tentang karawitan Banyuwangen.
Hangsun Gandrung memiliki modal sosial yaitu berupa jaringan sosial yang dibangun di Surakarta dan sekitarnya, nilai lebihnya bahwa Hangsun Gandrung memiliki solidaritas yang kuat antar anggotanya. Mayoritas anggota Hangsun Gandrung adalah mahasiswa ISI Surakarta, maka interaksi untuk saling berkomunikasi cukup terjaga. Ketika salah satu jurusan di ISI Surakarta mempunyai acara berkaitan dengan karawitan maupun tari, maka nama Hangsun Gandrung direkomendasikan untuk mengisi acara tersebut. Salah satu acara terbaru yang pernah diikuti adalah Swara Panghujung 2021 di Taman Budaya Jawa Tengah yang diadakan oleh Jurusan Etnomusikologi ISI Surakarta.
Modal simbolik yang dimaksud dalam tulisan ini yaitu berupa pengalaman pentas Hangsun Gandrung di Surakarta. Eksistensi Hangsun Gandrung memang belum seberapa besar di Surakarta, mengingat masyarakat di Surakarta cenderung mempunyai pandangan tersendiri mengenai kesenian luar yang hadir di Surakarta. Bukan tentang etnosentrisme, melainkan latar belakang kesenian Banyuwangi yang identik dengan cepat dan keras, kemudian dihadapkan dengan budaya kesenian yang berada di Surakarta yang mempunyai sifat halus dan mempunyai pakem tersendiri dalam berkesenian, terutama pada seni karawitan dan seni tari.
Hangsun Gandrung harus bertahan dengan mencari modal ekonomi untuk dapat tetap menjaga eksistensi dan berproses kreatif di Surakarta. Modal ekonomi dalam konteks ini saya bagi menjadi eksternal dan internal. Pemasukan eksternal artinya pemasukan keuangan yang berasal dari luar seperti penyewaan gamelan dan kostum. Pada dasarnya pemasukan eksternal tidak stabil, hal tersebut didasari pada rendahnya minat para seniman di Surakarta menggunakan gamelan Banyuwangi dalam proses berkesenian. Di sisi lain, penyewaan kostum tari coba dimaksimalkan oleh Hangsun Gandrung, mengingat antusias seniman, pelajar, dan masyarakat di Surakarta terhadap tari Banyuwangen cukup besar . Pemasukan pemasukan internal berasal dari iuran bulanan anggota sebesar Rp 20.000, Pemasukan tersebut digunakan sebagai dana operasional, seperti penyewaan ruangan di Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah, listrik bulanan, kebutuhan alat dan juga kebutuhan lainnya.
Ranah atau arena yang dimaksud oleh Bourdiue yaitu tempat yang digunakan dalam mendukung suatu reproduksi budaya, atau disebut sebagai arena bagi pelaku budaya, Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta menjadi salah satu arena bagi Hangsun Gandrung dalam kegiatannya untuk mereproduksi kebudayaan Banyuwangi di Surakarta. Ranah tersebut menjadi tempat latihan rutin oleh grup Hangsun Gandrung, seperti latihan karawitan, kuntulan, dan juga tari-tarian Banyuwangi.
Bernegosiasi dengan Ruang dan Waktu
Pengalaman dan kebiasaan hidup para anggota grup Hangsun Gandrung yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur, dalam konteks ruang dan waktu turut hadir pula mewarnai kehidupannya di Surakarta. Mereka memiliki modal budaya yang cukup kuat, baik dari aspek pendidikan formal maupun non-formal dalam dunia seni. Selain itu, melalui komunikasi sosial yang dibangunnya, modal sosial yang dimilikinya sudah tidak diragukan lagi. Hal lain yang dilakukan untuk bertahan dalam kehidupannya, Hangsun Gandrung menyediakan jasa persewaan instrumen gamelan dan kostum tari Banyuwangi. Sehingga jika dilihat dari segi ekonomi, grup ini dapat bertahan walaupun berada di perantauan.
Modal simbolik yang tampak dari grup Hangsun Gandrung, dalam setiap pementasan selalu menggunakan simbol-simbol Banyuwangi, baik dari aspek instrumen musik, kostum, maupun idiom musikalnya. Berkaitan dengan ranah, grup Hangsun Gandrung yang bermukim di ranah berbeda dapat diterima. Hal tersebut juga disebabkan oleh keterbukaan masyarakatnya yang dapat menerima budaya lain yang berasal dari berbagai daerah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa adanya penegasan yang dilakukan oleh Hangsun Gandrung dengan menghadirkannya kesenian Banyuwangi di Surakarta, yang kemudian dapat disejajarkan dan diakui keberadaannya seperti masyarakat seni lainnya yang hidup dan berkembang di Surakarta, Jawa Tengah.
Dalam kehidupan bermasyarakat luas agar dapat diakui di ranah baru harus memiliki habitus dan modal. Sementara untuk masyarakat pemilik diharapkan memiliki pemikiran adanya keterbukaan terhadap budaya yang hadir di daerahnya. Keterkaitan dalam bersosial agar dapat saling menjaga hubungan sosial yang baik, terkhususnya dalam ranah kesenian di Indonesia yang cukup memiliki keragaman budaya yang menarik.
Pustaka
Abdullah, I. (2009). Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Endraswara, S. (2006). Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan: Ideologi, Epistemologi, dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
Gustami, S. (2000). Studi Komparatif Gaya Seni Yogya-Solo. Yogyakarta: Yayasan Untuk Indonesia.
Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta.
Krisdinanto, N. (Maret 2014). Pierre Bourdieu, Sang Juru Damai. Jurnal KANAL. Vol.2, No.2, 189-206.
Mursidi, A. (April 2018). Gandrung Seni Pertunjukan di Banyuwangi. Jurnal Santhet, Volume 2, Nomor 1.
Nakagawa, S. (2000). Musik dan Kosmos. Jakarta: Yayasan Obor.
Nukha, R. (April 2017). Reproduksi Budaya dalam Pentas Kesenian Tradisional di Balai Soedjatmoko. Jurnal Analisa Sosiologi, 42-54.
Stone, R. M. (2008). Theory for Ethnomusicology. New York: Routledge
.
Penulis: Satrio Bogie Syamsudin
Ig: satriobogie
Email: satriobogie@gmail.com
Sampul: ig hangsun_gandrung