BREGADA REKSO WINONGO “Tak Sekadar Atraksi Budaya”
Oleh: Aryapandu Zikri Sardjono
Bregada Rakyat: Inovasi berbasis Imitatif
Bregada merupakan nama lain dari brigade yang berarti kelompok prajurit. Kesenian baris-berbaris yang merujuk kepada kelompok prajurit keraton Yogyakarta ini menjadi suatu tontonan baru bagi wisatawan yang sedang berkunjung ke kota Budaya D.I. Yogyakarta. Sejarah perkembang Bregada cukup panjang, mulai dari zaman kerajaan hingga zaman kolonialisme. Fungsi Bregada berubah, dari kodrat utamanya sebagai penjaga dan pasukan perang kerajaan menjadi sebuah pertunjukan atraksi budaya yang diminati oleh masyarakat (Yuwono:2009). Oleh sebab itu, masyarakat di Yogyakarta berinisiatif untuk membuat sebuah kelompok atau grup baris berbaris dengan konsep meniru kepada kelompok prajurit keraton yaitu bregada Munculah kelompok baris-berbaris di masyarakat yang dinamakan Bregada Rakyat. Bregada Rakyat terdiri dari berbagai unsur dalam masyarakat sehingga banyak hal yang menarik dalam sebuah kelompok atraksi budaya ini.
Pada tahun 2021 tepatnya bulan November Dinas Pariwisata bersama dengan Dinas Kebudayaan membuat suatu agenda kegiatan dimana Bregada Rakyat memiliki peran penting di dalamnya, kegiatan tersebut bertajuk Bregada Rakyat Malioboro. Salah satu kelompok Bregada Rakyat yang brepartisipasi dalam pergelaran Bregada Rakyat Malioboro adalah kelompok Bregada Rekso Winongo. Bregada Rekso Winongo merupakan kelompok atraksi budaya dengan konsep peniruan prajurit Keraton yang berada di bantaran sungai Winongo, oleh sebab itulah di namakan Rekso Winongo. Bregada Rekso Winongo dapat dipahami sebagai transfer of discrete musical traits (pengambilalihan ciri khusus musik) atau dalam musik sering terjadi peminjaman ciri khusus dari suatu budaya musik. Konsep tersebut menjelaskan bahwa Bregada Rekso Winongo meminjam bregada yang berada di Keraton Yogyakarta, hal tersebut merupakan bagian kecil dari transkulturasi yang sangat mungkin terjadi. (Nakagawa: 2000).
Tulisan ini akan menguraikan posisi Bregada Rekso Winongo dalam konteks fungsi bagi komunitas masyarakat di Yogyakarta dengan pendekatan etnomusikologi. Pendekatan secara etnomusikologi mengerucutkan kepada pembahasan kajian teks dan pembahasan kajian konteks. Teks merupakan bagian musikal yang menjadi pokok pembahasan mengenai musik maupun aspek musikal pendukungnya, sementara konteks merupakan pembahasan mengenai lingkungan masyarakat yang terdampak dengan adanya aspek musikal oleh kesenian tersebut.
Bregada Rakyat bagi Masyarakat Yogyakarta
Bregada Rakyat Malioboro merupakan sebuah wadah bagi para komunitas Bregada Rakyat di sekitaran lingkungan wisata Malioboro, selain itu juga sebagai penanda wilayah dan menjadi sebuah ikon budaya Kota Yogyakarta khususnya kawasan wisata Malioboro. Tulisan ini menganalisis fungsi bregada Rakyat bagi masyarakat Yogyakarta dengan meiminjam konsep fungsi musik dyang ditawarkan oleh musik Alan P. Merriam. Tulisan ini tidak menggunakan keseluruhan fungsi yang dikemukakan oleh Alan P Merriam namun hanya lima dari sepuluh fungsi yaitu:
-Sarana Hiburan
Sarana hiburan menjadi hal yang paling mendasar pada peran Bregada Rekso Winongo dalam acara Bregada Rakyat Malioboro, sebab pada saat melakukan kegiatan acara tersebut banyak dari wisatawan lokal maupun turis mancanegara merasa terhibur pada saat melihat atraksi budaya ini. Hal tersebut dapat dilihat dari antusiasme mereka untuk merekam pertunjukan kelompok ini. Tidak sedikit turis yang melakukan swafoto bersama personil Bregada Rekso Winongo. Para personil yang menganggap bahwa, acara ini merupakan sebuah refreshing bagi mereka di kala rutinitas dengan berbagai latar belakang pekerjaan.
-Presentasi Estetis
Bregada Rekso Winongo berperan sebagai presentasi estetis bagi para personilnya. Menjadi bagian dari kelompok Bregada Rekso Winongo menjadi suatu kebanggan tersendiri bagi para personil grup tersebut. Kebanggaan itu tercipta pada saat mereka menggunakan atribut lengkap dan memainkan alat musik yang terlihat gagah.
-Pengesahan Upacara
Bregada Rekso Winongo tidak hanya tampil pada event yang bersifat rutin namun juga dapat diundang pada berbagai macam kegiatan. Kelompok ini pernah dihadirkan dalam prosesi upacara pengangkatan kepala desa dan upacara pernikahan. Pada saat launching Bregada Rakyat Malioboro, kelompok ini tidak hanya menjadi peserta, namun juga menjadi bagian penampil pembukaan acara launching tersebut.
-Komunikasi
Hal yang menarik tentang keberadaan Bregada Rekso Winongo diantaranya Kelompok ini berperan membantu para aparat mulai dari Jogo Boro, SatPol PP, dan aparat lainnya untuk menjaga dan menertibkan protokol kesehatan di lingkungan sekitar kawasan wisata Malioboro. Bregada Rekso Winongo juga bertugas sebagai Duta Wisata yang mana dapat berfungsi sebagai tour guide atau pemandu wisata di kawasan wisata Malioboro. Para personil dibekali kemampuan untuk membaca peta wisata, berkomunikasi dengan turis asing, mengarahkan para wisatawan ke tempat yang ikonik, memberi wawasan tentang spot foto yang baik, dan lain sebagainya. Sehingga peran komunikasi ini menjadi pembeda dari kelompok bregada lain di luar Bregada Rakyat Malioboro.

-Pengintegrasian Masyarakat
Pengintegrasian masyarakat merupakan proses penyesuaian unsur-unsur yang berbeda pada masyarakat, seperti contohnya pelaksanaan gotong royong. Dalam konteks Bregada Rakyat Malioboro, khususnya pada Bregada Rekso Winongo berperan sebagai bagian dari agen CHSE (Cleanliness, Health, Safety, Environment sustainability) di kawasan Malioboro. CHSE merupakan program Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) tentang kebersihan, kesehatan, keamanan, dan juga kelestarian lingkungan.
Lain dulu lain sekarang
Bregada Rekso Winongo merupakan Bregada Rakyat yang berupaya melestarikan dan melanjutkan tradisi Keraton Yogyakarta dalam keprajuritan. Bregada Rekso Winongo menjadi media baru untuk bersosialisasi kepada para wisatawan di kawasan wisata Malioboro yang menjadi destinasi utama para pelancong apabila sedang berlibur di D.I.Yogyakarta. Kemasan atraksi budaya yang disajikan bregada rakyat sangat mendukung berkembangnya kesenian-kesenian lain di Yogyakarta. Bregada tidak hanya dijadikan sebagai obyek ikon budaya dan tampil di ruang ekslusif. Peran pemerintah dan masyarakat seni berhasil menghadirkan formula baru, yaitu membumikan bregada di masyarakat umum, sebagai media komunikasi masyarakat melalui Bregada Rakyat dalam konteks modern. Fenomena ini tentu saja dapat menjadi pelecut semangat para pelaku seni budaya dan pemerintah daerah untuk berinovasi menghadirkan kemasan-kemasan seni budaya yang bermanfaat bagi kesejahteraan dan tepat sasaran untuk masyarakat Yogyakarta khususnya dan Indonesia pada umumnya.
Daftar Pustaka
Merriam, Alan P. (1964). The Anthrophology of Music. Evanstone: Northwestern University Press.
Nakagawa, Shin. (2000). Musik dan Kosmos: Sebuah Pengantar dalam Etnomusikologi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Suwito, Yuwono S. (2009). Prajurit Kraton Yogyakarta: Filosofi dan Nilai Aturan sejak dahulu kala istiadat yang Terkandung di Dalamnya . Yogyakarta: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta.
Narasumber :
Nur Sukiyo, 49 tahun, pelatih serta pembina Bregada Rekso Winongo serta Bregada Rakyat DI. Yogyakarta, Kampung Ngampilan Kemantren Ngampilan Kota Yogyakarta.
Penulis: Aryapandu Zikri Sardjono
Editor : Ribeth Nurvijayanto
Email : aryapandu81@gmail.com
Instagram : _susuayam