
Yogyakarta – Program Studi Etnomusikologi, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta kembali menunjukkan kontribusinya dalam produksi seni pertunjukan berskala besar melalui keterlibatan dosen dan mahasiswa dalam pementasan teater musikal Mahespati Sangkara yang digelar pada Jumat, 27 September 2024 di Laboratorium Seni ISI Yogyakarta.
Mahespati Sangkara merupakan bagian penutup dari trilogi pertunjukan Dwipantara setelah sebelumnya menghadirkan lakon Niskala Nawasena dan Ambarasta. Ketiga karya tersebut mengangkat narasi metaforis mengenai perjalanan bangsa Indonesia, mulai dari tantangan menjaga persatuan, pentingnya menumbuhkan semangat bela negara, hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa di tengah berbagai ancaman yang datang dari luar maupun dari dalam negeri.
Dalam kisah Mahespati Sangkara, tokoh Aruta digambarkan sebagai sosok pemuda yang berjuang mempertahankan hak kemerdekaan dan mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap berbagai bentuk ancaman yang dapat merusak kehidupan berbangsa dan bernegara. Melalui pendekatan teater musikal yang memadukan seni peran, tari, musik, wayang, animasi, dan teknologi visual interaktif, pertunjukan ini menghadirkan pengalaman artistik yang imersif sekaligus sarat pesan kebangsaan bagi generasi muda.
Produksi kolaboratif yang melibatkan 296 dosen dan mahasiswa dari berbagai program studi di Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta ini memberikan ruang bagi setiap disiplin seni untuk berkontribusi sesuai bidang keahliannya. Dalam konteks tersebut, Program Studi Etnomusikologi mengambil peran penting terutama pada aspek musikalitas pertunjukan.
Kontribusi Program Studi Etnomusikologi terlihat melalui keterlibatan Warsana, M.Sn., dosen Etnomusikologi ISI Yogyakarta, yang dipercaya sebagai Penata Iringan Mahespati Sangkara. Dalam perannya, Warsana bertanggung jawab merancang konsep musikal, menyusun struktur iringan, serta mengarahkan penyajian musik agar selaras dengan kebutuhan dramatik pertunjukan. Garapan musik yang dihadirkan tidak hanya berfungsi sebagai pengiring adegan, tetapi juga menjadi unsur naratif yang memperkuat karakter, membangun atmosfer, serta menyampaikan emosi dan pesan yang terkandung dalam setiap bagian cerita.
Selain kontribusi dosen, mahasiswa Etnomusikologi juga terlibat aktif sebagai pemain musik dalam pertunjukan. Kehadiran mereka menjadi bagian penting dalam menghidupkan keseluruhan sajian musikal melalui permainan berbagai instrumen yang mendukung jalannya cerita. Melalui proses latihan hingga pementasan, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung bekerja dalam produksi seni pertunjukan multidisiplin yang menuntut kemampuan musikal, disiplin kerja, komunikasi, dan kolaborasi lintas bidang.
Keterlibatan dosen dan mahasiswa Etnomusikologi dalam Mahespati Sangkara menunjukkan bagaimana kompetensi yang dikembangkan di Program Studi Etnomusikologi tidak hanya berorientasi pada kajian akademik dan penelitian budaya musik, tetapi juga mampu diaplikasikan dalam praktik penciptaan seni pertunjukan yang inovatif dan kolaboratif. Pengalaman ini menjadi ruang pembelajaran yang penting bagi mahasiswa untuk memahami proses produksi pertunjukan secara menyeluruh, mulai dari tahap perancangan artistik hingga penyajian karya di atas panggung.
Partisipasi dalam Mahespati Sangkara sekaligus menjadi wujud kontribusi nyata Program Studi Etnomusikologi ISI Yogyakarta dalam mendukung pengembangan ekosistem seni pertunjukan di lingkungan kampus. Melalui kolaborasi lintas program studi, Etnomusikologi tidak hanya hadir sebagai pendukung musikalitas pertunjukan, tetapi juga sebagai bagian dari proses kreatif yang memperkaya kualitas artistik karya secara keseluruhan.
Keterlibatan ini menegaskan komitmen Program Studi Etnomusikologi ISI Yogyakarta untuk terus mendorong dosen dan mahasiswa berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan penciptaan seni, sekaligus memperlihatkan peran strategis etnomusikologi dalam menjembatani tradisi, kreativitas, dan inovasi dalam seni pertunjukan kontemporer.


